KEUANGAN KELUARGA

KEUANGAN KELUARGA

Penghasilan Keluarga Tidak Harus Semua dari Suami

Materi menjadi hal yang wajib dimiliki oleh para calon suami. Hampir semua kaum pria di dunia ini selalu menyiapkan bekal materi yang cukup sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Asumsi penduduk dunia yang sudah mengakar di hati dan pikiran itu memang benar adanya.

Anda bisa membukanya di surat atau akta nikah. Dalam agama manapun, tugas dan kewajiban suami adalah menafkahi keluarganya. Dan, kebenaran yang berasal dari agama memang tidak bisa disanggah lagi karena aturan itu berasal dari Tuhan.

Banyak kita temui ibu-ibu rumah tangga yang menjadi wanita karir. Bahkan, tak jarang di antara mereka lebih fokus bekerja daripada mengurusi rumah tangganya. Mereka lebih suka menyewa pembantu atau baby sitter untuk menggantikan tugas-tugasnya. Tak sedikit juga para wanita yang masih lajang mengumpulkan materi. Setiap wanita mempunyai alasan yang berbeda-beda.

Ada yang memang lebih suka bekerja di kantoran daripada di rumah, namun banyak juga yang beralasan meniti karir untuk masa depan yang cemerlang. Wah... dahsyat ya??

Fenomena seperti itu rasanya sudah menjadi biasa, lumrah dan umum. Selama itu masih dalam batas koridor, bekerja di luar rumah tentu bukanlah suatu permasalahan. Artinya, kedua sisi tidak ada yang dirugikan. Tugas rumah tangga tetap bisa teratasi, begitupun juga dengan tugas kantor. Tapi, menyeimbangkan dua hal yang berbeda itu tidak gampang. Banyak anak yang mengeluh karena ibunya yang ekstra sibuk dengan kerjaan, sehingga si anak merasa tidak diperhatikan. Berangkat pagi, pulang malam. Pada hari libur pun digunakan untuk lembur atau urusan kantor lainnya. Di balik fenomena itu semua, ternyata banyak juga yang lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga daripada bekerja di luar rumah. Alasannya? Biar konsen penuh ke urusan keluarga, begitu mungkin kata Anda. Saya bilang, alasan itu sangat hebat..!!

Wanita memang tidak wajib bekerja. Tugas mereka adalah mendidik anak dan mengurusi tugas kerumahtanggaan. Namun, jika Anda memutuskan untuk bekerja (padahal Anda sudah menikah dan mempunyai anak), tentu hal ini akan menjadi nilai plus bagi Anda, dengan catatan Anda TIDAK meninggalkan kewajiban dan tugas Anda sebagai ibu sekaligus istri. Jika Anda lebih fokus pada kerjaan Anda di kantor, sementara Anda hanya punya waktu malam hari saja (itu pun Anda gunakan untuk istirahat), maka kemungkinan besar Anda akan kehilangan keharmonisan dalam rumah tangga Anda. Kurangnya komunikasi dan tatap muka dengan keluarga sudah cukup menjadi alasan untuk menjadikan Anda sebagai orang asing di mata suami dan anak Anda. Mana yang Anda pilih, keluarga atau karir Anda?

Suami menjadi tulang punggung keluarga ternyata tidak berlaku mutlak di masyarakat dunia. Tentu saja, tergantung pada kondisi dan situasi. Jika si suami ditakdirkan mempunyai cacat fisik yang mengharuskannya untuk bedrest( (istirahat di tempat tidur), otomatis istri mengambil alih tugas suami. Dan realita berkata bahwa tidak sedikit di luar sana, wanita yang menjadi tulang punggung dalam rumah tangganya. Lepas dari benar tidaknya ajaran agama, begitulah faktanya di lapangan. Banyak juga kasus rumah tangga yang awalnya (ketika hanya suami yang bekerja), berpenghasilan pas-pasan. Buat makan saja mungkin masih ngutang tetangga. Setelah si istri memutuskan untuk bekerja membantu si suami, ternyata kebutuhan mereka tercukupi. Minimal, tidak ada lagi saldo hutang di laporan keuangan mereka.

Kondisi ekonomi yang menghimpit seperti saat sekarang ini tidak jarang memaksa para ibu rumah tangga untuk terjun mencari nafkah (membantu suami). Saya yakin, kebanyakan ibu rumah tangga menginginkan hal itu. Sayangnya, banyak di antara mereka yang kebingungan, berhubung lowongan kerja yang memadai itu tidak tersedia bagi mereka, yang mungkin lulus SD saja tidak. Lantas, bagaimana solusinya? Pasrah pada kehidupan yang serba sulit? Bekerja seadanya asal dapat duit?

Penghasilan keluarga tidak harus semua dari suami. Saya tidak bermaksud untuk merendahkan, apalagi meremehkan penghasilan suami Anda. sekali lagi, TIDAK. Hal ini semata-mata agar Anda termotivasi untuk membantu suami dalam mencari nafkah. Jika Anda mampu, mengapa Anda tak mencoba meringankan beban suami Anda? Semuanya tergantung Anda, dan tentu saja atas izin suami Anda. Anda duduk manis di rumah pun, itu hak Anda. Anda selalu menuntut ini dan itu kepada suami Anda pun, itu juga hak Anda. Sebelumnya, cobalah untuk berpikir, kira-kira istri yang suka menuntut itu apakah kriteria istri idaman? Apakah dia istri solehah? Jawabannya tentu TIDAK. Tapi, saya tidak mengajarkan kepada Anda untuk bekerja semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi Anda. That's the point!!

Sekaya apapun Anda, mendidik anak tidak bisa dialihtugaskan kepada pembantu atau baby sitter. Jika Anda bekerja di luar rumah dengan jam terbang yang tinggi, bagaimana nasib anak Anda? Banyak pakar yang menyatakan bahwa anak adalah aset, harta yang mahal. Jika investasi Anda tidak sempurna, jangan harap Anda akan menuai basil yang baik dari anak Anda kelak.

Uang menjadi hal yang sangat sensitif saat ini, yang kata kebanyakan rakyat Indonesia adalah masa-masa susah, paceklik dan rekoso. Bagaimana dengan Anda? Aman-aman saja?

Mengatur, merencanakan dan membuat anggaran dalam rumah tangga sendiri ternyata tidak segampang yang dibayangkan. Apalagi, jika kondisinya selalu lebih besar pasak daripada tiang. Dalam rumah tangga Anda, siapa yang bertugas memegang keuangan rumah tangga? Anda atau pasangan Anda? Banyak orang yang bilang bahwa wanita lebih teliti dan hati-hati dalam mengatur keuangan. Jika uang keluarga dipegang istri, maka saldo hutang bisa diminimalkan karena kelihaian si istri dalam mengatur pengeluaran. Faktanya, asumsi itu tidak 100% benar adanya. Banyak rumah tangga yang justru berlaku kebalikannya. Artinya, si suami lebih bisa mengatur keuangan keluarga daripada si istri. Apalagi, predikat konsumtif itu banyak ditujukan untuk para istri, bukan suami.

Keuletan dan kelihaian dalam mengatur keuangan tidak tergantung pada jenis kelamin, melainkan watak dan karakter masing-masing pribadi. Banyak juga lho suami yang konsumtifnya minta ampun. Siapapun yang memegang keuangan dalam rumah tangga Anda, masing-masing memberikan nilai plus dan minus sendiri-sendiri.

ISTRI MEMEGANG KENDALI KEUANGAN KELUARGA

Wanita adalah makhuk penuh perasaan. Dalam memutuskan segala sesuatu lebih sering berpangkal pada perasaannya.

Secara umum jika istri berperan sebagai pemegang kendali keuangan dalam rumah tangga kelebihannya adalah:

  • Pengeluaran akan lebih mudah terkontrol.
    Tugas-tugas rumah tangga yang berkaitan dengan uang biasanya adalah urusan wanita, mulai dari masak-memasak, keperluan MCK sampai uang jajan anak sehari-hari. Karena istri mengetahui dengan pasti kondisi keuangan keluarga, maka kemungkinan besar si istri akan berusaha untuk menyeimbangkan antara pengeluaran dengan pendapatan suami.
  • Lebih ulet dan teliti
    Wanita biasanya lebih teliti dan ulet, apalagi dalam masalah uang. Banyak wanita (istri pemegang keuangan) yang justru bisa menyisihkan uang untuk ditabung daripada pria. Tidak jarang ditemui istri yang mikir seribu kali sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli barang (meskipun barang tersebut dibutuhkan). Artinya, istri lebih bisa mengetahui skala prioritas daripada suami.
Sementara itu kelemahan istri saat memegang kendali keuangan keluarga adalah:
  • Wanita lebih mudah marah karena sifat sensitifnya. Jika kondisi keuangan keluarga sedang minus, maka kemungkinan besar yang akan emosi pertama kali adalah wanita. Hal ini biasanya dipicu oleh banyaknya kebutuhan rumah tangga, sedangkan uang yang ada di kas keluarga jauh dari cukup.
  • Selain itu, kelemahan lain jika istri sebagai pemegang kendali keuangan keluarga adalah rendahnya posisi suami di hadapan istri. Bukan hal yang mustahil jika suami di bawah kendali istri. Misalnya saja, suami ingin membeli barang X. Karena barang yang dibutuhkan suami tersebut menurut si istri tidak perlu, maka mungkin ia juga keberatan untuk mengeluarkan uang untuk membeli yang dibutuhkan suami (barang X).

SUAMI MEMEGANG KENDALI KEUANGAN KELUARGA

Posisi ini kebalikan dari posisi di atas. Model seperti ini lebih banyak digunakan oleh keluarga di Indonesia. Para suami biasanya memilih posisi ini karena sifat wanita yang mudah naik darah jika dalam kondisi keuangan minus. Dalam hal ini, suami biasanya mempunyai sifat yang lebih tertutup (dalam hal keuangan). Dalam memutuskan pengeluaran (misalnya membeli barang), biasanya lebih dermawan (gampangan) daripada istri. Sifat gampangannya inilah yang memungkinkan lebih besar pasak daripada tiang.

SUAMI ISTRI MEMEGANG KEUANGAN BERSAMA-SAMA

Meskipun posisi seperti ini (dipegang bersama-sama) jarang ditemui di masyarakat, namun banyak hal positif yang dapat diambil. Kesan ribet menjadi alasan utama bagi kebanyakan keluarga. Tak jarang istri merasa diperlakukan tidak adil karena uang yang diterimanya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan posisi ini, segala pengeluaran keluarga dimusyawarahkan bersama pasangan. Kalaupun masing-masing mempunyai pendapatnya sendiri-sendiri, maka akan dicari skala prioritas (yang paling penting). Posisi ini bisa menjadi solusi bagi istri/suami yang sering merasa diperlakukan tidak adil.

Ketiga analisa di atas tidak benar mutlak 100%. Saya hanya mengambil dan menyimpulkan dari beberapa contoh pasangan yang saya temui. Jika kondisi Anda berkebalikan dengan yang saya jelaskan di atas, maka itu adalah pengecualian. Siapapun pemegang keuangan dalam rumah tangga Anda, yang penting adalah kejujuran dan keuletan. Tidak ada batasan atau ukuran 100% mutlak siapa pemegang keuangan yang aman dan tepat. Semua itu kembali kepada karakter dan kepribadian masing-masing pasangan.